Laman

Tampilkan postingan dengan label SPIRITUAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SPIRITUAL. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Agustus 2014

MEMOTONG KUKU FITRAH RASULULLH SHaLLALLaHU 'ALAIHI WASALLAM

BismiLlaahirRahmaanirRahiim.
Assalaaamu'alaykum warahmatuLlaahi wabarakaatuh

Kuku ialah selaput atau bahagian keras yang tumbuh pada ujung jari manusia, benda keras yang menganjur yang tumbuh pada ujung kaki binatang (ada yang besar dan ada yang panjang dan tajam).

Kuku yang diciptakan Allah Subhanahu wa Ta'ala mempunyai peranan dan kepentingannya yang tersendiri kepada manusia. Dalam hukum Islam, kuku berperan alam beberapa perkara hukum yang tidak seharusnya diabaikan oleh umat Islam. Walaupun ia dilihat hanya seolah-olah perkara kecil, namun kadang-kadang ia adalah perkara besar, sebagai contoh kuku bisa menyebabkan tidak sah wudhu atau mandi junub, jika air tidak atau terhalang sampai ke kuku.

Beberapa permasalahan yang berhubungan dengan kuku dari segi hukum, hikmah memotong kuku, memanjangkan dan mewarnanya

1. Hukum Dan Hikmah Memotong Kuku

hasbunallah wanikmal wakil

hasbunallah wanikmal wakil

Rabu, 23 Juli 2014

Damba Cinta-Mu

Tuhanku.. ampunkanlah segala dosaku
Tuhanku.. maafkanlah kejahilan hamba-Mu
Kusering melanggar larangan-Mu dalam sadar ataupun tidak
Kusering meninggalkan suruhan-Mu walau sadar aku milik-Mu

Tuhanku.. ampunkanlah segala dosaku
Tuhanku.. maafkanlah kejahilan hamba-Mu
Bilakah diri ini kan kembali kepada fitrah semula
Pagi kuingat, petang kualpa..
Begitulah silih berganti

Oh, Tuhanku..
Kau bimbinglah diri ini yang mendamba cinta-Mu
Aku lemah.. aku jahil..
tanpa bimbingan dari-Mu

Kau Pengasih, Kau Penyayang, Kau Pengampun
Kepada hamba-hamba-Mu
Selangkahku kepadamu, seribu langkah Kau padaku

Tuhan.. diri ini tidak layak ke surga-Mu
Tapi tidak pula aku sanggup ke neraka-Mu

Kutakut kepada-Mu
Kuharap jua pada-Mu

Moga ku kan selamat dunia dan akhirat
Seperti Rosul dan sahabat.. 


by : Rahian

Senin, 21 Juli 2014

hanya kata-kata


ku coba mengetuk pintu yang ada dilangit..
mencoba merahi tangkainya tanpa deritan yang terasa dihati..
hanya untuk menyampaikan alunan kata tanpa makna..
seperti tertutup dan rapat terkunci oleh belenggu badani..
          tapi pintu itu berada diujung tangga kehidupan yang panjang..
          meniti satu persatu bersama waktu bergemul peluh dan pedih...
          menahan sukma dengan angan angan manisnya bunga kehidupan..
          memeras perih hati melepas dahaga dunia melepas selimut ini..
Bangun.. Bangun.. Udah Shubuh .. Shalat dulu...

Senin, 11 November 2013

MENGENAL - NYA

Janganlah kau menganggap mengenal Allah itu adalah suatu sosok yang Ghaib / Dzahir,, walau dia menamakan dirinya Al Bathin dan Dzohir,, seperti yang ku ungkap Yang Mencipta ghoib beda dengan Maha Ghoib,, yang menciptakan Dzahir beda dengan Maha Dzahir,,

Fahami dulu makna "beragama" agar tidak salah persepsi,, agama yang di maksud adalah Dienullah,, "Aturan Allah" adalah suatu sistem / tatanan dimana segala sesuatunya harus sesuai "ketentuan yang telah Dia berikan pada "utusan Nya" bernama Muhammad,, siapa Muhammad?? ialah Bapa segala Makhluk,, Dialah Nur yang pertama Allah jadikan ,, kemudian setelah nya jadilah makhluk2 lainya,, termasuk nama Allah sendiri sebenarnya berasal dari Nur tersebut,, sampai disini jangan bingung,, mengapa karena sebenarnya Tuhan Semesta Alam tidak membutuhkan nama sekalipun,, namun ketika ada yang diciptakan Allah butuh Nama agar yang di Ciptakan dapat memahami hakikat dirinya adalah makhluk yang Dia ciptakan,,

Tiga Jalan Rohani Ma’rifatullah

1. Cita Rasa (Dzauq) 
Cita rasa adalah pengalaman spiritual langsung. Dzauq merupakan tahapan atau lebih tepatnya, haal (kondisi spiritual) pertama dalam pengalaman pengungkapan diri Allah (tajalli). Rasa ini diperoleh dari perjalanan rohani dalam berbagai maqamat, serta berbagai perilaku dzikir dari seorang sufi.

Dari dzauq, perjalanan seorang sufi terus diarahkan pada kemenyatuan (larut dalam Keesaan) yang sering disebut juga sebagai “syurb” (minuman dari hidangan rohani Illahi). Sehingga dahaga spiritual yang dirasakan menjadi terpuaskan. Terkadang proses ini juga diikuti dengan tahapan sukr (kemabukan spiritual), yang secara tidak sadar, atau diluar kendali diri kemanusiaannya sering memunculkan pertanyaan dan kata-kata serta ungkapan spiritual (syathahat). Hal ini terjadi karena rasa keterkuasaan oleh wujud Tuhan dalam rohaninya.

Sabtu, 04 Mei 2013

SAHABAT YANG BERSAHABAT (UST JEFRI AL BUCHARI)

UJE (USTAD JEFRI AL BUCHARI)
Ustadz ganteng ini laris diminta berdakwah. Perjalanan hidup Jeffry Al Buchori sungguh dahsyat. Penuh gejolak dan tikungan tajam. Proses pergulatan yang luar biasa ia alami sampai ia menemukan kehidupan yang tenang dan menenteramkan. Simak kisahnya yang sangat memikat mulai nomor ini.
Sebetulnya aku tidak ingin bercerita banyak tentang masa laluku. Maklum, masa laluku sangat kelam. Namun, setelah kupikir, siapa tahu perjalanan hidupku ini bisa menjadi pelajaran bagi orang lain. Baiklah, aku bersedia membagi pengalaman hidupku pada para pembaca. Insya Allah, ada gunanya.

Jumat, 03 Mei 2013

CAHAYA YANG BERCAHAYA


Wahai jabir, sesungguhnya Allah SWT sebelum menciptakan segala sesuatu terlebih dahulu menciptakan cahaya nabimu dari Allah (Hadist).
 
Jika bukan karena engkau, jika bukan karena engkau, wahai Muhammad, Aku tak akan pernah menciptakan langit yang tinggi dan mengejawantahkan Kedaulatan-Ku (Hadis).

Dalam sebuah hadis Rasulullah saw bersabda, Ana min nurullaahi, wa khalaq kulluhum min nuuri—”Aku berasal dari cahaya Allah, dan seluruh dunia berasal dari cahayaku.” Dalam hadits lain dari Ibnu Abbas disebutkan, “Sesungguhnya ada seorang Quraisy, yang ketika itu masih berwujud nur (cahaya), di hadapan Allah Yang Maha Perkasa lagi Mahaagung, dua ribu tahun sebelum penciptaan Nabi Adam as. Nur itu selalu bertasbih kepada Allah…”

Sabtu, 30 Maret 2013

Ana Kidung Rumekso Ing Wengi, Sunan Kalijaga



Terjemahan dalam Bahasa Indonesia oleh Kandjeng Pangeran Karyonagoro, 2005

Ada kidung rumekso ing wengi.
Yang menjadikan kuat selamat terbebas dari semua penyakit.
Terbebas dari segala petaka.
Jin dan setanpun tidak mau.
Segala jenis sihir tidak berani.
Apalagi perbuatan jahat.
guna-guna tersingkir.
Api menjadi air.
Pencuripun menjauh dariku.
Segala bahaya akan lenyap.

Semua penyakit pulang ketempat asalnya.
Semua hama menyingkir dengan pandangan kasih.
Semua senjata tidak mengena.
Bagaikan kapuk jatuh dibesi.
Segenap racun menjadi tawar.
Binatang buas menjadi jinak.
Pohon ajaib, tanah angker, lubang landak,
gua orang, tanah miring dan sarang merak.

kidung rumekso ing wengi video


kidung rumekso ing wengi mp3

kidung rumekso ing wengi

KIDUNG Rumeksa Ing Wengi“. Saya terjemahkan bebas menjadi Kidung Penjaga di Keheningan Malam. Ia merupakan tembang, gita, lagu atau nyanyian yang sangat popoler di pedesaan-pedesaan Jawa. Konon diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Salah satu dari sembilan wali penyebar agama Islam di Pulau Jawa.
Tatkala SD di Klaten Jawa Tengah awal-awal 1980-an, saya acap mendengar “ura-ura” (senandung) lirih dan penuh penghayatan ini dari bibir tipis Pakde Minto  pada keheningan malam yang tengah “leyeh-leyeh” (berbaring rileks) di bale bambu yang sudah agak reyot. Di lain waktu, kidung ini disenandungkannya sembari membuai mesra putra bungsunya yang susah tidur dan senantiasa menangis –sebagai pengantar ke peraduan.
Apabila mendengar kidung dilantunkan, aliran darah serasa terkesiap. Dan memang, pada kenyataannya kidung  ini bukan sembarang kidung. Orang Jawa meyakini, dengan menyanyikannya, maka pelantun dan keluarganya akan terhindar dari malapetaka.

Senin, 18 Maret 2013

...

MEMBAYANGKAN BERTEMU DENGANMU SAJA SUDAH TERAMAT INDAH..
TAPI KENYATAANYA UNTUK MULAI MENCARIMU SAJA ITU ADALAH TERAMAT SULIT..



Kamis, 10 November 2011

EPISODE KEHIDUPAN : CHAPTERS OF LIFE

Urip mung mampir ngombe,” tegas nenek saya. Hidup itu cuma bersinggah untuk minum.
Mari sini, teman-teman yang baik, mari sini. Sembari mengukur jalan ini, membuang kembali ingatan ke masa kecil, yang kata orang, masa paling indah. Ingatkah ruang itu, ketika kita menyusuri kebun tebu dan melempari danau bersama kawan-kawan sebaya, tanpa tuntutan, tanpa prasyarat? Dan jejak-jejak gairah itu, luka itu, rasanya baru kemarin, bukankah demikian?
Dan sungguh, waktu meluncur begitu cepat. Hal-hal yang tak terbayangkan di masa kecil, kini kita hadapi. Maka sampailah kita di sini, para penyusur jalanan dan gedung-gedung kota yang suram. Pergi pagi pulang petang. Lalu untuk apa? Mengisi lambung yang hanya seukuran setengah bantal ini? Menunggu maut?

Ah, sudahlah… ;-)
Ijinkan saya bercerita tentang bab-bab kehidupan, perjalanan sebagian besar kita, yang bermula dari suatu masa jauh sebelum kita dilahirkan, dan berakhir dengan… entahlah, saya ingin membiarkan jari-jari ini jatuh kemana pun yang disuka. Hanya dengan memahami bab-bab awal itu, kita akan beroleh clue dimana kita sekarang, untuk apa, dan kemana semuanya ini menuju.
* * * *
CHAPTER 1

Bersama Tuhan
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul, kami menjadi saksi”. (QS [7]:172)
alastu.jpg
Tentang apakah ayat ini berkisah? Siapakah itu jiwa-jiwa keturunan Adam, yang berhadap-hadapan dengan Allah Yang Maha Tinggi itu, teguh bersaksi tiada ragu “Betul, kami menjadi saksi”?
Kita, teman-teman yang baik. Itu kita. Saya, anda, masing-masing, semuanya! Jiwa yang ada di sana itu, adalah juga yang ada di sini. Sosok yang bercakap-cakap dengan Sang Raja Diraja Semesta Raya itu, adalah juga sosok yang ini. Bukan siapa-siapa, bukan para tokoh di dongeng dan kisah pahlawan, tapi kita.
Kita adalah saksi tentang keesaan Tuhan, bukankah demikian? Kita lah, makhluk mulia yang diciptakan dengan sebaik-baiknya ini, yang akan angkat suara atas segala keraguan tentang keberadaan Tuhan. Karena bukankah kita telah melihat Dia, teman-teman yang baik? Berbicara dengan-Nya? Kita lah yang paham benar, kita yang tahu. Siapapun itu: presiden dan tukang cukur, guru dan para murid, sarjana dan kaum awam, laki-laki dan perempuan, kaya dan miskin, tak satu pun terkecuali. Kita berasal dari sana, kita semua bersaksi, dan akan dituntut tentang persaksian itu.
… agar di hari kiamat engkau tak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini.” (QS [7]:172)
Akan tetapi, lihatlah diri ini kini. Ingatkah kita tentang semua kejadian itu? Ingatkah kita akan sosok “wajah” yang kepada-Nya kita menghadap dahulu?
Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami, dan dia lupa kepada kejadiannya… (QS [36]:78)
Kebanyakan kita, tak sedikit pun mampu mengingatnya. Mengapa? Coba kita teruskan, barang sebentar.
*******

Rabu, 09 November 2011

MENGENAL TUHAN

"Awalludin Ma'rifatullah" ,"Man Arofa Nafsahu Faqod Arofa Robbahu"
Sebaik baik dalam menjalankan Ibadah kepada Allah adalah dengan terlebih dahulu mengenal Allah.Bersyukurlah kita yang dilahirkan dalam keadaan Islam sehingga memudahkan kita dalam menjalankan makna kata Ke Esaan Allah SWT,dengan didikan dari Orang Tua yg kita cintai dan dari pembelajaran ttg Agama Islam,kita telah mendapat pengetahuan tentang pelaksanaan ibadah kepada Allah SWT...dan berbahagialah kita sebagai pemeluk Agama yang sempurna yang telah mendapatkan pengetahuan dan pelaksanaan Ibadah kepada Allah yang telah disampaikan langsung oleh Allah kepada Rasulullah Muhammad SAW sehingga kita tinggal meneruskannya.Di dalam Kitab Suci Umat Islam Al'quran telah begitu lugas dan gamblang Allah telah menjelaskan tentang segala hal baik ttg kehidupan bermasyarakat (Hablumminannash) maupun berhubungan dengan Allah(Hablumminallah).

Tetapi sebagai manusia yang memiliki karunia yang sangat besar yang membedakan kita dengan makhluk apapun di dunia ini yaitu Akal Fikiran dan Hati Nurani maka sudah selayaknyalah kita belajar dan mengkaji makna yang terkandung dalam Al'quran maupun Hadist Rasulullah SAW sehingga kita bisa menjalankan Ibadah yang sebenar benar di terima Allah SWT.
Seperti tema yang kita bahas yaitu AWALLUDIN MA'RIFATULLAH yang berarti Awal Agama Mengenal Allah maka sebagai manusia yang berakal sudah sepatutnya kita mencoba tuk lebih dalam  Mengenal Allah.
Mengutip perkataan Imam Al-Ghazali yang mengatakan : “Ilmu tanpa amal adalah gila dan pada masa yang sama, amalan tanpa ilmu merupakan suatu amalan yang tidak akan berlaku dan sia- sia.”

MENGENAL DIRI SESUNGGUHNYA MENGENAL TUHANNYA

Setengah daripada jalan mencapai makrifat itu ialah dengan mengenal diri seperti kata seorang sahabat Rasulullah SAW., Yahya bin Muaz Al-Razi ;

"Barangsiapa mengenal dirinya maka sesungguhnya mengenal ia akan Tuhannya".
Yahya bin Muaz mengambil faham daripada perkataan Nabi SAW. daripada pertanyaan seorang sahabat;

"Siapakah yang lebih mengenali TuhanNya, ya Rasulullah?

Maka sabdanya yang lebih mengenal mereka dengan dirinya."
Ada pun mengenal diri itu tiga [3] macam iaitu;

1. Periksa dan memahami.
2. Membuat bandingan dan ukuran.
3. Lemah dan tertegah.

1. Periksa dan memahami.Hendaklah dimusyahadahkan akan kejadian diri kita kepada dua pandangan iaitu;

a. Pandangan yang pertama kepada diri zahir yang dijadikan akan dia daripada emapat anasir iaitu;

Tanah, Air, Api dan Angin..

yang bermula daripada kejadian lembaga Nabi Adam 'Alaihi-Salam. Setelah sempurna lembaga Adam maka dimasukkan Ruh ke dalamnya lalu hidup ia bernyawa, bergerak, melihat, mendengar, dan sebagainya seperti firman Allah dalam

Surah Al-Shod; 71-72 yang bermaksud;

"Ingat olehmu hai Muhammad ketika firman oleh Tuhan kamu bagi malaikatNya bahawa Aku jadikan manusia daripada pati tanah maka apabila aku sempurnakan dia dan aku masukkan ke dalamnya ruhKu, maka sekelian malaikat duduk dan sujud baginya".

MENGENAL DIRI ADALAH ANAK KUNCI MENGENAL ALLAH

Mengenal diri itu adalah "Anak Kunci" untuk Mengenal Allah.
Hadis ada mengatakan ;
MAN 'ARAFA NAFSAHU FAQAD 'ARAFA RABBAHU ( Siapa yang kenal kenal dirinya akan Mengenal Allah )

Firman Allah Taala;
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu benar. (QS. 41:53)
Tidak ada perkara yang lebih hampir dari diri sendiri. Jika anda tidak kenal diri sendiri, bagaimana anda hendak tahu perkara-perkara yang lain? Yang dimaksudkan dengan Mengenal Diri itu bukanlah mengenal bentuk lahir anda, badan, muka, kaki, tangan dan lain-lain anggota anda itu. karena mengenal semua perkara itu tidak akan membawa kita menegnal allah. Dan bukan pula mengenal setakat perkara dalam diri anda yaitu bila anda lapar anda makan, bila dahaga anda minum, bila marah anda memukul dan sebagainya. Jika anada bermaksud demikian, maka binatang itu sama juga dengan anda. Yang dimaksudkan sebenarnya mengenal diri itu ialah;
  • Apakah yang ada dalam diri anda itu?
  • Dari mana anda datang?
  • Kemana anda pergi?
  • Apakah tujuan anda berada dalam dunia fana ini?
  • Apakah sebenarnya bagian dan apakah sebenarnya derita?
Sebagian daripada sifat-sifat anda adalah bercorak kebinatangan. Sebagian pula bersifat Iblis dan sebagian pula bersifat Malaikat. Anda hendaklah tahu sifat yang mana perlu ada; dan yang tidak perlu. Jika anda tidak tahu, maka tidaklah anda tahu di mana letaknya kebahagiaan anda itu.

JALAN MENUJU MA’RIFATULLAH

Di dalam suatu dalil dikatakan bahwa :

“Awwaluddin Ma’rifatullah” (Awal mula seseorang itu beragama, ialah mengenal akan Allah)”.

Dimana seseorang itu wajib hukumnya untuk mengenal akan Allah sebagai langkah awal menuju kesempurnaan beragama. Tanpa mengenal Allah maka Ibadah apapun yang dilakukan bagaimana mungkin bisa dikatakan sampai sedangkan Tujuan nya saja tidak diketahui. Karena itu sangatlah penting sekali pengenalan akan Allah itu di dalam kehidupan ini. Dengan Mengenal akan Allah maka akan dirasakannya Manis Lezatnya ke imanan, dirasakan khusyuknya dalam Amal Ibadah serta Ketenangan Jiwa akan mengalir di dalam dirinya. Menjadikan Pribadi yang ikhlas, sabar, tawakkal serta Ridho dalam menjalani Hidup. Tentu tiada kebahagiaan yang melebihi daripada kebahagiaan para Arif billah/orang yang mengenal akan Allah

Seandainya Allah Swt membukakan akan rahasia keagungan para Arif billah, maka niscaya orang-orang akan tercengang dan terheran-heran serta takjub dibuatnya. Karena Nur yang meliputi diri para Arif billah itu akan memancar menembus sampai ke langit ketujuh. Karena itu lah Allah menutup akan diri para kekasih-kekasihNya itu, sehingga tidak ada yang mengetahui tentang dirinya melainkan hanya Allah dan mereka-mereka yang sama-sama telah sampai pada maqom Ma’rifatullah tsb.