Laman

Sabtu, 30 Maret 2013

kidung rumekso ing wengi

KIDUNG Rumeksa Ing Wengi“. Saya terjemahkan bebas menjadi Kidung Penjaga di Keheningan Malam. Ia merupakan tembang, gita, lagu atau nyanyian yang sangat popoler di pedesaan-pedesaan Jawa. Konon diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Salah satu dari sembilan wali penyebar agama Islam di Pulau Jawa.
Tatkala SD di Klaten Jawa Tengah awal-awal 1980-an, saya acap mendengar “ura-ura” (senandung) lirih dan penuh penghayatan ini dari bibir tipis Pakde Minto  pada keheningan malam yang tengah “leyeh-leyeh” (berbaring rileks) di bale bambu yang sudah agak reyot. Di lain waktu, kidung ini disenandungkannya sembari membuai mesra putra bungsunya yang susah tidur dan senantiasa menangis –sebagai pengantar ke peraduan.
Apabila mendengar kidung dilantunkan, aliran darah serasa terkesiap. Dan memang, pada kenyataannya kidung  ini bukan sembarang kidung. Orang Jawa meyakini, dengan menyanyikannya, maka pelantun dan keluarganya akan terhindar dari malapetaka.

Keseluruhan bait  dari “Kidung Rumeksa Ing Wengi” berjumlah sembilan. Namun yang terkenal dan acapkali disenandungkan yakni bait pertamanya. Bait pertama  sangat dikenal dan menjadi semacam “kidung wingit“  karena diyakini membawa tuah seperti mantra sakti penolak bala.
Jika kita cermati makna dari sembilan bait kidung ini, kandungan isinya merupakan medium dakwah dalam bentuk tembang yang sangat luar biasa. Ini menandakan bahwa para penyebar agama Islam di masa-masa awal perkembangannya di pulau Jawa mampu memahami, menjiwai dan sekaligus menjawab kebutuhan spiritualitas masyarakat.
Semangat yang terkandung dari  kidung ini  untuk saling ingat-mengingatkan manusia agar senantiasa mendekatkan diri kepada Gusti Allah SWT. Dengan mempercayai bahwa Allah SWT sangat dekat dengan makhluk ciptaan-Nya, maka apapun rintangan dan godaan dari luar yang menghadang akan dengan mudah diatasi. Termasuk rintangan dan godaan yang kadangkala di luar kemampuan akal manusia.
***
Sekarang mari kita resapi, dua buah bait gita  ini dalam langgam “Dhandhanggula“. Ia seolah-olah menjadi tembang klasiknya Orang Jawa, yang abadi sepanjang masa. Hingga kini, orang-orang tua di pedesaan masih banyak yang hapal dan mengamalkan lirik tembang terkemuka ini.

Kidung Rumeksa Ing Wengi (1)
Ana kidung rumekso ing wengi
Teguh hayu luputa ing lara
Luputa bilahi kabeh
Jim setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Miwah panggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemahan tirta
Maling adoh tan ana ngarah ing mami
Guna duduk pan sirno

Terjemahannya dalam bahasa Indonesia:
Kidung Penjaga di Keheningan Malam (1)
Ada kidung penjaga di keheningan malam
Kukuh selamat terbebas dari  penyakit
Terbebas dari segala malapetaka
Jin dan setan jahat pun tidak berkenan
Segala jenis sihir pun tidak ada yang berani
Apalagi perbuatan jahat
Ilmu orang yang bersalah
Api dan juga air
Pencuri pun jauh tak ada yang menuju padaku
Guna-guna sakti pun sirna
***
Sementara itu, saya pilihkan bait berikutnya yang dipercaya dapat mempercepat perjodohan. Bagi orang Jawa, mengamalkan lirik ini, terutama bagi perempuan tua yang kesulitan  mendapatkan suami diyakini dapat menemukan jodohnya. Disamping itu, bait ini juga dipercaya dapat menyembuhkan orang gila. Betul atau salah, dan betul-betul berkasiat atau tidak,  saya serahkan pada kemantapan masing-masing pribadi.

Kidung Rumeksa Ing Wengi (2)
Wiji sawiji mulane dadi
Apan pencar saisining jagad
Kasembadan dening zate
Kang maca kang angrungu
Kang anurat kang anyimpeni
Dadi ayuning badan
Kinarya sesembur
Yen winacakna ing toya
Kinarya dus rara gelis laki
Wong edan nuli waras

Terjemahannya dalam bahasa Indonesia:
Kidung Penjaga di Keheningan Malam (2)
Kejadian berasal dari biji yang sama
kemudian berpencar ke seluruh dunia
Terimbas oleh zat-Nya
Yang membaca dan mendengarkan
Yang menyalin dan menyimpannya
Menjadi keselamatan badan
Sebagai sarana pengusir
Apabila diterapkan dalam air
Dipakai mandi perawan agar cepat bersuami
Orang gila pun segera sembuh
*****
http://dwikisetiyawan.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar